Surat Utang Negara Dijual Online, Begini Cara Belinya
- rf-berjangkanet
- May 14, 2018
- 4 min read
Penawaran Surat Utang Ritel seri SBR003 | PT Rifan Financindo Berjangka

Secara umum, pembeli hanya perlu mengakses salah satu dari 9 perusahaan yang menjadi mitra distribusi tersebut. Setelah itu, masing-masing aplikasi website dari 9 mitra akan memandu pembeli mulai dari isi profil, memilih besaran nominal, hingga tahap pembayaran yang bisa juga dilakukan menggunakan m-banking atau transfer via ATM.
Luky menegaskan, SBR003 ini menyasar anak muda atau generasi milenial. Sebab, saat ini pengguna internet aktif didominasi oleh anak muda. Katanya, sudah saatnya generasi muda beli SBR003 ini.
“Selain itu, kalau investasi lewat bank, ada kecenderungan biasanya bank dahulukan investor besar. Makanya kalau di online ini kan lebih fair. Jadi investor kecil juga bisa. Siapa cepat, dia dapat,” ujarnya.
Saat ini, ada 9 mitra distribusi, yaitu lima bank umum (Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA, dan Bank Permata), tiga perusahaan efek (TriMegah, Bareksa, dan tanamduit), serta satu fintech (Investree).
“Kita kerja sama dengan mitra distribusi dengan 9 instrumen itu. Memang ada syarat dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk dapat semacam ID Card. Tapi itu akan difasilitasi oleh 9 mitra distribusi itu. Mereka akan bantu,” katanya Luky saat peluncuran penawaran perdana SB003 di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Senin (14/5).
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman menjelaskan, pembeli hanya perlu mengakses perusahaan atau mitra distribusi yang bekerja sama dengan Kementerian Keuangan.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membuka masa penawaran Surat Utang Negara (SUN) untuk Surat Utang Ritel (Saving Ritel Bond/SBR) dengan seri SBR003 via online (e-SBN). Masa penawaran resmi dibuka hari ini 14 Mei 2018 hingga 11 hari ke depan atau sampai 25 Mei 2018.
Pembelian surat utang seri SBR003 ini bisa dilakukan secara online dengan minimal Rp 1 juta dan maksimal Rp 3 miliar. Adapun tenor yang diberlakukan selama dua tahun.
Penanganan Terorisme Penentu Investor Beli Surat Utang Negara | PT Rifan Financindo Berjangka
Data Kemenkeu per 9 April 2018 menerangkan, jumlah surat utang yang bisa diperdagangkan tercatat Rp2.197,4 triliun. Dari jumlah tersebut, 24,22 persen digenggam oleh perbankan, 6,81 persen dipegang oleh lembaga negara, dan 68,77 dipegang oleh nonbank seperti asuransi, kepemilikan asing, dan dana pensiun.
Pemerintah membutuhkan pembiayaan sebanyak Rp783,2 triliun di tahun ini yang terdiri dari Rp55,8 triliun pinjaman dan Rp727,4 triliun SBN. Namun, Angka SBN ini kemudian ditambah lagi dengan Surat Perbendaharaan Negara (SPN) jatuh tempo sebesar Rp119 triliun, sehingga angka total SBN yang diterbitkan pemerintah tahun ini rencananya sebesar Rp846,4 triliun.
Di samping itu, kejadian bom belakangan ini tidak menyurutkan niat Kemenkeu untuk menerbitkan surat utang dengan valuta asing seperti Samurai Bond yang rencananya dilakukan semester ini. Alih-alih melihat kondisi keamanan, Kemenkeu lebih khawatir melihat volatilitas pasar modal sebelum menerbitkan surat utang tersebut.
Saat ini, kondisi pasar surat berharga terbilang tak menentu lantaran aksi kenaikan suku bunga acuan AS Fed Fund Rate sebesar 3 persen yang tentu membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS makin tertekan. Selain itu, tensi geopolitik antar negara dianggap sebagai pertimbangan lain bagi Kemenkeu sebelum menerbitkan surat utang lainnya.
"Tapi kalau memang market-nya bagus, kami siap upsize untuk SBN valas. Termasuk Samurai Bonds, ini masih in the pipeline," terang dia.
Kementerian Keuangan mengatakan penanganan pemerintah dalam menangani kasus dugaan terorisme di Indonesia sangat berpengaruh bagi keputusan investor dalam menempatkan dananya dalam instrumen surat utang atau Surat Berharga Negara (SBN). Hal tersebut bagian dari upaya membangun kepercayaan investor terhadap segala kondisi di Indonesia.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman mengatakan bahwa investor sensitif dengan gejolak di luar fundamental ekonomi. Jika pemerintah tak tanggap, maka ketidakpercayaan investor semakin besar. Ujung-ujungnya, minat investasi di SBN bisa berkurang.
"Keamanan sangat penting, confidence ini sangat penting. Ini kan sesuatu yang di luar fundamental ekonomi, semoga pemerintah cepat tanggap sehingga ekonomi tidak berpengaruh," jelas Luky, Senin (14/5).
Sasar Milenial, Obligasi SBR003 Resmi Diluncurkan | PT Rifan Financindo Berjangka
Proses pemesanan SBR003 dapat dilakukan secara online (e-SBN) dengan kupon yang ditawarkan sebesar 6,8 persen untuk 3 bulan pertama (3 Mei 2018 sampai 20 Agustus 2018). Angka ini berasal dari suku bunga acuan yang berlaku saat penetapan kupon sebesar 4,25 persen ditambah spread tetap 255 basis point (2,55 persen).
Tingkat kupon berikutnya akan disesuaikan setiap tiga bulan pada tanggal penyesuaian kupon sampai dengan jatuh tempo. Selain itu, jenis surat utang ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan tidak dapar diperdagangkan sampai dengan jatuh tempo. "Sementara untuk early redemption (pelunasan sebelum jatuh tempo) bisa dilakukan setelah setahun," katanya Luky.
Profil investor SBN itu usia di atas 40 tahun, padahal banyak potensi investor untuk golongan muda yg sudah terbiasa dengan era digitalisasi, sehingga pasar ini perlu dioptimalkan," kata dia.
Surat Berharga Negara ( SBN) SBR003 (Saving Bonds Retail Seri 003) resmi diterbitkan Senin (14/5/2018). Masa penawaran ini akan berlangsung hingga 25 Mei 2018. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, penawaran obligasi ini merupakan bentuk upaya pemerintah untuk memperdalam pasar keuangan domestik.
"Instrumen SBR hasil kerja sama Kemenkeu dengan pelaku pasar serta otoritas lain di pasar keuangan kali ini dilakukan untuk pendalaman pasar keuangan domestik," ujarnya saat peluncuran SBR003 di Jakarta, Senin (14/5/2018). Luky mengatakan, melalui pendalaman pasar ini diharapkan SBR003 dapat menjangkau pasar generasi muda atau milenial.
Comments