top of page

Saya Masih Layak Pimpin Facebook

  • rf-berjangkanet
  • Apr 9, 2018
  • 3 min read

Penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica | PT Rifan Financindo Berjangka

Ia mengatakan bahwa perbaikan ini akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, namun itu bukan berarti platform tidak semakin baik setiap bulannya. Ia berharap Facebook bisa menyelesaikan masalah ini secepat yang mereka bisa.

Dalam laporan terakhir yang diungkap Facebook pada Kamis (5/4), total korban penyalahgunaan data mencapai 87 juta pengguna. Mayoritas berasal dari AS sekitar 70,6 juta, atau sekitar 81,6 persen.

Jumlah korban terbanyak kedua adalah Filipina dengan jumlah korban 1,17 juta, kemudian Indonesia dengan 1,09 juta pengguna menjadi korban Cambridge Analytica.


Zuckerberg tahu ada banyak keluhan dan desakan agar Facebook segera menyelamatkan data-data yang disalahgunakan Cambridge Analytica. Namun jalan untuk menyelesaikan masalah tersebut masih sangat panjang.

"Saya berharap saya bisa cukup mengentakkan jari-jari saya dan dalam tiga bulan atau enam bulan, semua masalah ini terselesaikan," harap Zuckerberg.


Pria berusia 33 tahun itu enggan berkomentar lebih jauh soal kabar jabatannya sebagai pemimpin bakal dilepas oleh dewan komisi Facebook. Zuckerberg hanya mengatakan dirinya tidak mengetahui tentang hal itu.

Berbagai upaya telah dilakukan Facebook untuk mengamankan data-data pengguna agar kasus serupa tidak terjadi lagi. Langkah-langkah. Mulai dari menjaga keamanan dan pembaruan layanan privasi data, hingga melakukan perubahan untuk membatasi akses terhadap data pribadi pengguna Instagram lewat API (Application Programming Interface) oleh pengembang aplikasi pihak ketiga.


Ketika ditanya mengenai masih layak atau tidak ia memimpin Facebook usai terbongkarnya skandal Cambridge Analytica, Zuckerberg mengaku dirinya masih bisa mengelola perusahaan dan menjadi petinggi untuk platform yang didirikannya.

"Saya rasa hidup itu tentang belajar dari kesalahanmu dan upayakan apa yang kamu butuhkan untuk terus maju," kata Zuckerberg.


CEO Facebook Mark Zuckerberg tidak bisa lepas begitu saja dari masalah yang kini menjadi sorotan dunia. Dalam sebuah konferensi pers di markasnya di Menlo Park, California, AS, ia mengakui bahwa kebocoran data pengguna adalah kesalahannya.

"Kami kurang memandang dengan cukup luas tentang tanggung jawab kami dalam masalah ini. Itu adalah kesalahan besar. Ini kesalahan saya," kata Zuckerberg, dilansir EveningStandard.


Dua pekan telah berlalu, namun kasus penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica masih membuat khawatir jagat internet. Belum lagi jumlah korban kini menjadi 87 juta, termasuk 1 juta lebih pengguna Facebook di Indonesia.



Rusia Tuntut Penjelasan dari Pembatasan Akun Medianya di Facebook | PT Rifan Financindo Berjangka


Facebook hari Selasa mengaku telah menghapus ratusan akun dan laman Rusia yang berkaitan dengan ‘pabrik troll’ yang oleh jaksa di Amerika bertanggungjawab atas aktivis pura-pura serta kiriman politis yang disebar saat kampanye pilpres 2016.

Facebook menyebut banyak artikel dan laman yang berasal dari kantor berita Rusia, Federal News Agency alias FAN yang mereka tautkan dengan Internet Research Agency milik Rusia.

Hari Selasa kepada Reuters, Zuckerberg mengatakan bahwa IRA “telah berulangkali menipu dan memanipulasi orang-orang di seluruh dunia, dan kami tidak menginginkan kehadiran mereka di Facebook.”

Rokomnadzor mengatakan telah menganggap pembatasan ini sebagai kelanjutan dari ‘kebijakan tidak bersahabat Facebook terhadap pengguna asal Rusia,’ kata RIA. Laporan ini tidak secara spesifik akun mana yang terdampak namun Rozkomnadzor menyebut langkah yang diambil Facebook tambah menyulitkan penduduk Rusia mau pun asing di jejaring tersebut untuk mengikuti berita perkembangan Rusia.

Badan pengawas komunikasi Rusia hari Jumat menyatakan telah meminta penjelasan dari Facebook tentang pembatasan akses beberapa organisasi media Rusia di platform milik Mark Zuckerberg tersebut.

Facebook Ternyata Periksa Percakapan di Fitur Messenger | PT Rifan Financindo Berjangka



Facebook mengatakan pembicaraan yang ada di Messenger tetap bersifat privat. Facebook memindai dan menggunakan alat yang sama dengan yang dipakai untuk mencegah penyalahgunaan di jejaring sosial pada umumnya.


Misalnya di Messenger, saat pengguna mengirim foto, sistem secara otomatis akan memindai menggunakan teknologi pencocokan foto untuk mendeteksi apakah gambar mengandung pornografi anak.

" Begitu juga dengan saat mengirimkan tautan, kami akan memindai apakah tautan tersebut mengandung malware atau virus," kata juru bicara Facebook Messenger.


Zuckerberg menjelaskan Facebook pernah mendapat telepon yang berkaitan dengan pembersihan etnis di Myanmar. Saat itulah, Facebook mendeteksi orang yang mengirim pesan sensasional melalui aplikasi Messenger.


" Untuk kasus semacam itu, sistem kami mendeteksi apa yang terjadi. Kami menghentikan pesan-pesan tersebut," kata Zuckerberg, dikutip Dream dari Tekno Liputan6.com, Minggu, 5 April 2018.


Facebook menjelaskan Messenger tidak menggunakan data dari pesan yang telah dibaca untuk kepentingan iklan. Kendati demikian, kata Facebook, kebijakan dapat melampaui apa yang diharapkan pengguna Messenger.


Kasus kebocoran data yang dialami Facebook membuka `rahasia dapur` perusahaan milik Mark Zuckerberg itu. Ternyata, selain merekam data pribadi penggunanya, Facebook juga memindai seluruh tautan dan foto yang dikirim melalui fitur perpesanan Messengger


Facebook membaca pesan yang dikirim pengguna. Pengintipan untuk memastikan konten percakapan sesuai aturan perusahaan.


Jika melanggar, Facebook moderator akan menghapus perpesanan pengguna tersebut. Dalam sebuah wawancara, CEO Facebook Mark Zuckerberg membenarkan kabar tersebut.




Comments


bottom of page