BI Ingatkan Bank Segera Pakai Sistem Chip
- rf-berjangkanet
- Mar 19, 2018
- 4 min read
Polisi berhasil menangkap 4 warga negara asing (WNA) pembobol anjungan tunai mandiri (ATM) dengan modus skimming atau penyalinan data | PT Rifan Financindo Berjangka

enggunaan National Standard Indonesian Chip Card Specification (NSICCS) dan PIN 6 digit wajib diimplementasikan oleh seluruh penyelenggara kartu ATM dan atau kartu debet yaitu prinsipal, switching, penerbit, acquirer, penyelenggara kliring dan atau penyelenggara settlement.
Teknologi NSICCS juga diterapkan tidak hanya pada kartu namun juga pada pada perangkat ATM, EDC serta seluruh sistem yang digunakan untuk memproses transaksi kartu ATM dan atau kartu debit.
Pihaknya juga terus meningkatkan keamanan data nasabah yang setiap saat rawan diretas oleh pelaku kejahatan. Pasalnya, dengan perkembangan teknologi yang masif belakangan ini ide pelaku kejahatan pun semakin banyak untuk membobol data nasabah."Sebenarnya kami bank selalu kejar kejaran dengan pelaku kejahatan soal teknologi dan peretasan. Karena untuk teknologi yang digunakan selalu berkembang setiap harinya," tutur Indra.
BI memastikan deteksi sistem yang ada di perbankan mampu menangkal kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat. Menurut Eva dengan langkah ini tidak bisa BI jalan sendiri karena harus ada kerjasama yang baik dari perbankan.
Ia menambahkan, BI meminta kepada seluruh perbankan memasangkan CCTV canggih yang berukuran kecil menempel di seluruh ATM. Masyarakat pun harus mulai terbiasa ketika ingin bertransaksi menutup ruang tombol PIN."Mari kita sama-sama untuk menjaga karena kemungkinan juga kita yang kena, kalau mengenai total kerugian berapa tanda tanya jaminannya tanda tanya kalau mengenai kerugian semua pihak bank. Kalau memang terkena korban skimming itu pasti diganti oleh pihak perbankan," tuturnya.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) TBk (BBRI) diketahui mempercepat proses migrasi kartu debit nasabah dari magnetic stripe alias pita hitam ke chip. Penggunaan chip dinilai lebih aman dibandingkan magnetic stripe."Makanya dengan adanya kejadian ini kami ingin mempercepat migrasi kartu debit ke chip selama ini kan masih dengan magnetic stripe," kata Direktur Digital Banking & Teknologi Informasi BRI Indra Utoyo.
Polisi berhasil menangkap 4 warga negara asing (WNA) pembobol anjungan tunai mandiri (ATM) dengan modus skimming atau penyalinan data dari rekening bank. Biasanya modus skimming memanfaatkan data yang terekam pada kartu ATM yang masih menggunakan magnetic stripe yang berupa garis hitam di kartu debet.
Agar pembobolan tidak terjadi, Deputi Direktur Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Eva Aderia mengatakan caranya dengan mengubah sistem data di kartu ATM dari magnetic stripe menjadi chip.
"Kita mendorong perbankan melalui ketentuan-ketentuan yang kami keluarkan untuk memberikan pengamanan baik di penggunaan transaksi menggunakan kartu kredit kartu ATM maupun kartu debit makanya nanti teman-teman bisa melihat bahwa sekarang di kartu itu kami sudah melalui perbankan perbankan sudah mengeluarkan kartu ATM atau debit yang menggunakan chip," katanya di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (17/3).
Bank BRI Blokir Transaksi Simpedes dari Luar Negeri | PT Rifan Financindo Berjangka
“Sesuai target Bank Indonesia harus diaplikasikan teknologi chip paling lambat tahun 2021, tetapi BRI akan menerapkan ke nasabah existing sekitar 30 persen pada tahun ini dari sekitar 60 juta nasabah kami,” kata Indra. Indra dalam kesempatan itu mengaku kesulitan untuk masuk ke sebuah daerah wilayah Sumatera Selatan yang diduga merupakan markas pelaku kejahatan perbankan berupa penyedotan saldo melalui one time password (OTP).
Di daerah tersebut, jelas Indra pelaku kejahatan perbankan telah membaur dengan penduduk. “Pelaku kejahatan sudah kongkalikong dengan penduduk sekitar,” kata Indra. Dia menyebutkan, daerah tersebut susah untuk dimasuki orang luar. Hal ini karena satu kampung tersebut diduga mayoritas terlibat kejahatan perbankan.
Satu-satunya cara agar pelaku kejahatan di daerah tersebut bisa ditangkap adalah membawa pelaku keluar daerah. Namun hal itu tidak mudah. Saat ini BRI bekerja sama dengan kepolisian untuk mengungkap kasus ini. Selain kasus skimming atau penggandaan data kartu debit, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) saat ini sedang menangani kasus penyedotan saldo melalui OTP.
Menurut dia, nasabah Simpedes jarang bepergian ke luar negeri, tetapi dari kasus duplikasi data nasabah di Kediri terlihat data mereka dikirim ke sindikat di luar negeri oleh pelakunya di Indonesia. “BRI akan setting transaksi default untuk nasabah Simpedes agar transaksi luar negerinya ditolak,” katanya.
Berkaitan dengan itu, BRI akan memberikan sosialisasi, tetapi tetap mengecualikan nasabah prioritas yang sering bepergian ke luar negeri, khususnya yang mènggunakan transaksi kartu kredit. Selain itu, perseroan juga mulai menerapkan teknologi pengaman chip untuk kartu debit bagi nasabah baru yang mengajukan aplikasi kartu debit BRI.
PT Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI) untuk sementara memblokir transaksi dari luar negeri terhadap semua nasabah Simpedes. Pemblokiran dilaksanakan untuk memutus rantai modus duplikasi atau skimming data nasabah yang selama ini melibatkan sindikat dari luar negeri.
“Kami juga akan menginvestigasi untuk mengetahui bagaimana para si ndikat tersebut bekerja sama dengan nasabah, termasuk kalau ada orang dari internal yang terlibat,” kata Direktur Digital Banking dan Teknologi Informasi BRI, Indra Utoyo di Bandung, akhir pekan lalu.
Akibat Skimming, BRI Akan Hapus Transaksi Luar Negeri Simpedes | PT Rifan Financindo Berjangka
Dari kasus pembobolan dana nasabah tersebut, ujar Indra, membuat BRI semakin giat untuk segera melakukan program migrasi dari kartu lama ke kartu chip. Untuk tahun ini 30 persen kartu lama akan diubah menjadi kartu berbasis chip. "Pergantian kartu ini makin cepat, maka makin baik," ujarnya.
Selain kejahatan skimming yang terjadi di Kediri, menurut dia, BRI juga disibukkan dengan kasus pembobolan uang nasabah melaui one time password (OTP). Untuk itu, pihaknya terus meningkatkan patroli skimming. BRI juga terus meningkatkan keamanan dan mengembangkan sistem intelijen.
"Saat ini bank seperti kejar-kejaran dengan pelaku kejahatan siber. Ini karena kami ingin agar pelayanan ke nasabah tetap optimal dalam hal keamanan. Sebab kejahatan siber sekarang sudah antar negara," tutur Indra.
Direktur Digital Banking dan Teknologi Informasi BRI, Indra Utoyo, mengatakan bahwa mereka akan memblokir transaksi yang ada di luar negeri untuk nasabah Simpedes. Tindakan ini diambil sebagai antisipasi kejahatan dengan melibatkan keunggulan teknologi.
"Jika nasabah Simpedes dilihat jarang berpegian ke luar negeri, maka kami akan blok transaksi luar negerinya. Intinya belajar dari kejadian Kediri, BRI akan menyeting transaksi default untuk nasabah Simpedes agar transaksi luar negerinya ditolak," kata Indra kepada pers dalam family gathering di Bandung, Sabtu-Minggu, 17-18 Maret 2018.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) bakal menghapus transaksi luar negeri untuk nasabah Simpanan Masyarakat Pedesaan (Simpedes). Hal ini terkait dengan kasus hilangnya dana nasabah BRI akibat kejahatan penggunaan data nasabah untuk pengambilan dana secara ilegal (skimming).
Comments