Vietnam Perketat Impor, Toyota, Honda, dan Mitsubishi Kena Imbas
- rf-berjangkanet
- Jan 26, 2018
- 5 min read
Ekspor Toyota dari Indonesia sudah berjalan selama 30 tahun, jumlah unit yang diekspor sudah menapai 1 juta unit | PT Rifan Financindo Berjangka

Vietnam, bersama dengan Kamboja, Laos dan Myanmar, diberi tenggang waktu dua tahun untuk menghapus semua tarif pada perdagangan regional, terkait barang-barang yang disepakati antara anggota, ketika blok 11 Negara memulai Komunitas Ekonomi Asia Tenggara atau ASEAN Economic Community (AEC), pada akhir 2015.
AEC diciptakan untuk mengintegrasikan ekonomi regional, yang memiliki produk domestik bruto gabungan sebesar 2,5 triliun dolar AS dan populasi 640 juta orang, dengan memfasilitasi arus bebas barang, jasa dan orang-orang. Perusahaan, terutama produsen, telah mengambil keuntungan dari kerangka ini, dan mempercepat investasi lintas batas (cross-border investment) dan membentuk rantai pasok regional. Keputusan Vietnam lewat Dekrit 116 bisa menjatuhkan nilai-nilai tersebut.
"Vietnam memiliki dua tahun untuk mengembangkan industri otomotifnya, tapi gagal melakukannya dan sekarang menjalankan proteksionisme," ujar sumber Nikkei.
Honda memperkirakan akan mengimpor 10.000 CR-V sepanjang 2018, meningkat 70 persen dari apa yang dihasilkannya di Vietnam tahun lalu, terutama karena model baru diluncurkan. “Model CR-V terbaru sangat populer dan kami sudah menerima sekitar 200 pesanan. Namun mobil-mobil itu tidak akan sampai ke sini, paling tidak sampai bulan April paling awal,” ujar pemilik dealer di Hanoi.
Mitsubishi Motor juga menghentikan produksi SUV Pajero Sports untuk pasar Vietnam di Thailand. Ford Thailand, yang juga mengirim mobil ke Vietnam, mengatakan dalam sebuah pernyataan, "Kami terus meningkatkan keprihatinan kami dengan pemerintah Vietnam sehubungan dengan dampak penting (keputusan) mengenai operasi bisnis tersebut."
Merek lain yang cukup terpukul dengan masalah ini adalah Honda, yang berniat mengirimkan model andalannya CR-V dari Thailand pada awal 2018 ini. Sebelumnya, Honda merakit lokal CR-V di Vietnam di mana suku cadangnya dipasok dari Thailand.
Kemudian, karena ada pembebasan tarif impor, Honda mengubah strateginya dengan mengonsolidasi produksi CR-V di Thailand sepenuhnya untuk dikirim ke Vietnam. Tujuannya untuk menghemat biaya, tapi rencana itu akhirnya harus tertunda.
Memang, penjualan mobil di Vietnam antara Januari dan November merosot 10 persen 2017 menjadi 245.000 unit. "Kami mengantisipasi lompatan besar pada 2018, tapi karena hambatan non-tarif yang ditetapkan oleh pemerintah Vietnam, kami sama sekali tidak dapat mengekspor ke sana," ucap Sugata.
Pihak Toyota mengatakan, pihaknya telah menghentikan semua produksi mobil yang akan diekspor ke pasar Vietnam. Pembuat mobil Jepang juga memproduksi lokal di Vietnam, tapi ada juga impor dari Thailand, Indonesia dan Jepang yang jumlahnya sekitar seperlima dari yang dijual, atau 1.000 unit per bulan. Model yang diimpor meliputi truk pickup Hilux, subkompak Yaris, kendaraan sport Fortuner dan mobil mewah Lexus.
"Pasar Vietnam melambat tahun lalu, karena konsumen menahan pembelian dan menunggu ketika tarif impor dihentikan pada akhir 2017," ujar Presiden Toyota Motor Thailand Michinobu Sugata.
Peraturan yang disebut sebagai Dekrit 116 , yang diumumkan pada Oktober 2017, tes keselamatan dan emisi harus dilakukan pada setiap batch mobil impor. Padahal sebelumnya hanya pengiriman pertama setiap model yang diuji.
Kamar Dagang dan Industri Jepang di Vietnam mengatakan, satu tes emisi bisa memakan waktu dua bulan dan menghabiskan biaya hingga 10.000 dolar AS. "Ini akan membuang banyak waktu dan uang," dalam sebuah pernyataan resmi.
Keputusan tersebut juga mewajibkan semua model untuk mendapatkan sertifikasi Vehicle Type Approval (VTA) yang dikeluarkan oleh otoritas negara pengekspor. Sertifikasi VTA sendiri untuk menunjukkan bahwa kendaraan tersebut memenuhi standar di suatu negara, yang aturannya dikeluarkan oleh entitas domestik negara pengimpor.
Dua merek asal Jepang, Toyota dan Honda menunda pengiriman ekspor ke Vietnam mulai awal 2018 ini. Alasannya, menyusul terbitnya aturan baru pemerintah Vietnam, untuk melakukan pemeriksaan lebih dahulu untuk setiap mobil impor yang masuk.
Mengutip Nikkei, Jumat (26/1/2018) kalau langkah yang diambil Vietnam ini dianggap sebagai bentuk proteksionisme. Regulasi baru ini datang pasca dihapuskannya tarif importasi produk otomotif, untuk negara ASEAN.
> Gara-gara Vietnam, Toyota-Honda-Mitsubishi Kelabakan | PT Rifan Financindo Berjangka
Presiden Toyota Motor Thailand Michinobu Sugata kepada wartawan di Bangkok mengatakan, penerapan aturan baru ini tentu sebagai bentuk proteksionisme pejabat industri di sana.
"Kami mengantisipasi lompatan besar pada 2018, namun karena hambatan non-tarif yang ditetapkan oleh Pemerintah Vietnam, kami sama sekali tidak dapat mengekspor ke pasar," katanya.
Keputusan Nomor 116 sendiri sebenarnya diumumkan pada Oktober lalu. Dalam aturan itu disebutkan, tiap mobil-mobil impor wajib memerlukan uji emisi dan keselamatan yang telah Pemerintah Vietnam tetapkan. Padahal sebelumnya, hanya pengiriman pertama bagi tiap model yang akan diuji.
Seperti dilansir Asian Nikkei, Jumat, 26 Januari 2018, Toyota telah mengatakan bahwa pihaknya telah menghentikan semua produksi untuk diekspor ke Vietnam. Selama ini unit yang diproduksi Toyota dari Thailand, Indonesia, dan Jepang, diketahui mencapai seperlima dari penjualan mobil di sana, alias 1.000 unit per bulan. Model-model yang diimpor meliputi Hilux, Yaris, Fortuner, hingga Lexus.
Pemerintah Vietnam baru-baru ini menerapkan aturan baru soal impor mobil dari negara-negara ASEAN. Ini terkait dengan kebijakan tentang uji tipe dan uji emisi yang tercantum dalam regulasi Nomor 116 tentang Overseas Vehicle Type Approval (VTA).
Akibatnya, ekspor mobil dari negara lain termasuk Indonesia, terhenti mulai bulan ini. Mengingat mobil-mobil itu wajib melalui uji tipe sesuai aturan mereka terlebih dahulu. Sejauh ini, banyak merek mobil yang telah melakukan penundaan ekspor sejak awal tahun.
Toyota Tunda Ekspor Mobil ke Vietnam | PT Rifan Financindo Berjangka
Diberitakan sebelumnya bahwa Presiden RI Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan PM Vietnam Nguyen Xuan Phuc di Hotel Taj Diplomatic Enclave, New Delhi, India, pukul 08.45 waktu setempat, Jumat (26/1/2018).
Salah satu yang dibahas adalah soal kendala ekspor barang dari RI ke Vietnam. Ekspor dari Indonesia ke Vietnam yang dibahas salah satunya adalah kendaraan bermotor.
Jika ini terus terjadi maka ekspor industri otomotif nasional sepanjang kuartal pertama 2018 bakal terancam. Di satu pihak, pemeritah Indonesia terus menyarankan agar setiap produsen otomotif di Indonesia menggenjor hasil produksinya.
Di satu sisi, penjualan mobil di Vietnam antara Januari dan November merosot 10 persen pada tahun lalu menjadi 245.000 unit. "Kami mengantisipasi lompatan besar pada 2018 namun karena hambatan non-tarif yang ditetapkan oleh pemerintah Vietnam, kami sama sekali tidak dapat mengekspor ke Vietnam," jelas Michinobu.
Pasar Vietnam melambat tahun lalu dengan jelas karena konsumen menahan diri untuk tidak membeli saat mereka menunggu penghentian tarif pada akhir 2017," kata Presiden Toyota Motor Thailand Michinobu Sugata di Bangkok mengutip nikkei.com, Jumat (26/1).
Toyota telah menunda ekspor mobil ke Vietnam sejak awal tahun ini. Ini karena Vietnam tengah menggenjot investasi dan mengurangi impor barang dari luar negeri. Sektor otomotif terkena imbas.
Perusahaan berlogo tiga elips itu mengatakan, bahwa pihaknya telah menghentikan semua produksi mobil untuk diekspor ke pasar otomotif Vietnam, sampai ada kejelasan. Artinya ekspor mobil dari negara lain termasuk Indonesia, berhenti mulai bulan ini.
Seperti kita kehatui, produsen mobil Jepang mengimpor mobil ke Vietnam dari Thailand, Indonesia dan Jepang mencapai sekitar seperlima dari pasar Vietnam, atau 1.000 unit per bulan. Model yang diimpor meliputi pikap Hilux, Yaris, Fortuner dan Lexus.
Comments